Tuesday, November 24, 2015

Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer




Judul : Bumi Manusia

Penulis :Pramoedya Ananta Toer

Bahasa : Indonesia

Genre: Historical,  Romance

Level of interest:

Penilaian>>>

Ide cerita=80

Karakter=85

Pesan moral=95

Gaya bahasa= 80

Tokoh-tokoh:


  1. Minke (baca: Mingke)

Orang memanggilku Minke. Nama ku sendiri . . . sementara ini tak perlu ku sebutkan. Bukan karena gila misteri. Telah aku timbang: belum terlalu benar tampilan diri di hadapan mata orang lain. (Halaman 9)

Begitulah Minke memperkenalkan diri. Seorang pria pribumi berdarah jawa, berkulit cokelat, berhati Dewata, berpikiran Eropa, namun bernasip nelangsa. Merupakan si tokoh utama yang akan menceritakan diri dan lingkungan serta kehidupannya di sini.

  1. Annelies Mellema

Sesungguhnya: kecantikannya memang memukau. Di tengah-tengah kemewahan ini ia Nampak agung, merupakan bagian yang mengatasi segala indah dan mewah. (Halaman 28)

Begitulah yang di gambarkan Minke di kali pertama menatap wanita ini. Boneka kertas yang rapuh. Rajin bekerja, bisa melakukan banyak hal menakjubkan namun menyimpan luka yang bernanah dan busuk di dalam hati nya hingga sampai-sampai itu mempengaruhi fisiknya.

  1. Nyai Ontosoroh alias Sanikem

Ia seorang pribadi cemerlang, seorang nakhoda kapal yang tak bakal membiarkan kapalnya rusak di tengah pelayaran, apalagi tenggelam. (Halaman 469)

Wanita teladan seklipun hidup sebagai seorang Nyai (gundik) yang secara hukum, agama, dan budaya tidak berstatus menakjubkan.


Banyak pula tokoh lain yang menemani seperti Jean dan anaknya May Marais, kemudian Tuan Telinga dan istri, Herman Mellema (ayah Annelies dan Tuan nya Sanikem), Robert Mellema, Robert Suurhoft, Jan Deepeste, Darsam (si pendekar Madura), Dokter Martinet, ayah dan bunda Minke, Miriam, Sarah, dan Herbert de la Croix, Magda Peters, dll.


What about the book, Vit?

Berputar di sekitar Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh sebagai pusat dari putaran arus novel ini. Novel yang membuat Pramoedya Ananta Toer meraih hadiah Nobel ini memang menakjubkan. Pertama thanks to Adli yang udah memperkenalkan dan meminjamkan buku ini ^^ thanks sekali.

Di tuturkan dengan alur lambat dan agak membingungkan (bahasa nya), namun perlahan dengan cara yang unik dan pasti akan membangkitkan Nasionalisme mu. Pram bisa mengangkat kegeraman dalam hati mu atas perlakuan yang sering di dapatkan Minke. Membangkitkan rasa cinta mu terhadap tanah air melalui surat-surat Miriam dan Sarah de la Croix contohnya.

Membangkitkan semangat wanita mu melalui peran dan keagungan Nyai Ontosoroh sekalipun sebagai concubine or slave mungkin di Indonesiakan pas nya ‘simpanan’. Lihat banyak sekali bukti bahwa Nyai benar-benar harus menjadi teladan kita misalnya bisa di baca di halaman 425-428, di halaman-halaman akhir saat persoalan mereka menjadi sangat kalut dan gila, dan tak bisa di pungkiri, keagungan Nyai menyebar di seantero novel.

Aku menyukai semu atokoh dan juga peran nya dalam buku ini kecuali Annelies.

Awalnya aku memang menyukai dia, tapi lama kelamaan kenapa aku merasa bahwa Annelies di sini benar-benar menyebalkan sepanjang novel kecuali sisi lain nya yang keluar di akhir (halaman 525-533). I mean I perfectly understand that she is a teenager, but really? She acted like an ashole all the time.

Namun novel ini pula membawa mu untuk berkhayal menjadi Sang Dewi, Annelies.

“. . . semua bunga menunduk, meliukan tangkai, malu karena kalah cantik. Mereka jadi pucat kehilangan seri dan warna.  . .”

Siapa yang tidak ingin menjadi seperti itu? Siapa yang tidak ingin memiliki pria yang mengatakan itu padamu?

Namun Tuhan memang selalu adil. Tak ada yang sempurna, begitu pula dengan Sang Dewi.

“. . . Ini barangkali tingkat susila keluarga nyai-nyai? Hampir-hampir aku benarkan. Tapi terdengar suara Jean Marais: terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Terbayang Marais menuding dan menuduh: tingkat susila mu sendiri tak lebih tinggi, Minke. Dan aku jadi malu pada diri sendiri. Dia, Annelies, tidak lebih buruk dari Minke.” (halaman 360)

Minke mengajarkan kita untuk tidak saling menghakimi karena semua manusia pada dasarnya tidak memiliki hak untuk itu. Semua manusia penuh dengan cela dan nista. Minke mengajarkan kita untuk membuka hati, menerima penjelasan, dan memikirkan alasan di balik sebuah peristiwa.

Well,, sekalipun agak berat (berhubung bahasa nya agak tidak familiar) namun bahasa tak familiar dan setting di masa penjajahan itu banyak menghasilkan ‘tawa tengah malam’ untuk ku (aku baca nya kebanyakan tengah malam, ha ha).

Contohnya waktu Toer menggambarkan tentang sakit kepala sebagai buah palakia yang menumbuhi kepala. Bagi ku itu agak lucu dan aneh lho. Aku baru tahu tentang biji palakia tari novel itu.  (baca sendiri pasti kerasa aneh –lucu nya.

Dan pula waktu Toer menceritakan penemuan baru di Jerman yang di gunakan untuk melenyapkan si palakia, ASPIRIN guys. Hal yang sangat di wah kan di sini ternyata aspirin. Bagiku itu mengundang tawa:)

Finally kita sampai ke tahap akhir yaitu apakah buku ini akan aku rekomendasikan untuk di baca? Oh tentu saja!^^

terbukti dari foto ini^^ *sorry kualitas foto nya jelek, pake laptop sih:)*


heh semua!!


 iya, semua. Kamu, kamu, dan juga kamu!!!

ayu atuh di beli dan baca!!

4 comments:

  1. Ka ,punya link ebook nya gak biar bisa didownload bukunya ? Soalnya saya cari cari buku itu udah gak ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah maaf Arya. Nggak punya. Coba cari di toko online. Atau mau nitip lewat aku? Di deket kampusku ada yang jual.😄

      Maaf lama balesnya

      Delete
  2. Ka ,punya link ebook nya gak biar bisa didownload bukunya ? Soalnya saya cari cari buku itu udah gak ada

    ReplyDelete
  3. Aku sih pin nya saja yg pegang bukunya.
    Boleh gak?
    Aku punya beberapa koleksi buku mas pram sempat kita bisa sharing hehe

    ReplyDelete

Tell me the reading experience or what you want for next book!^^