Judul : Bumi Manusia
Penulis :Pramoedya Ananta Toer
Bahasa : Indonesia
Genre: Historical, Romance
Level of interest:
Penilaian>>>
Ide cerita=80
Karakter=85
Pesan moral=95
Gaya bahasa= 80
Tokoh-tokoh:
- Minke (baca: Mingke)
Orang
memanggilku Minke. Nama ku sendiri . . . sementara ini tak perlu ku sebutkan. Bukan
karena gila misteri. Telah aku timbang: belum terlalu benar tampilan diri di
hadapan mata orang lain. (Halaman 9)
Begitulah Minke
memperkenalkan diri. Seorang pria pribumi berdarah jawa, berkulit cokelat,
berhati Dewata, berpikiran Eropa, namun bernasip nelangsa. Merupakan si tokoh
utama yang akan menceritakan diri dan lingkungan serta kehidupannya di sini.
- Annelies Mellema
Sesungguhnya:
kecantikannya memang memukau. Di tengah-tengah kemewahan ini ia Nampak agung,
merupakan bagian yang mengatasi segala indah dan mewah. (Halaman 28)
Begitulah yang di
gambarkan Minke di kali pertama menatap wanita ini. Boneka kertas yang rapuh. Rajin
bekerja, bisa melakukan banyak hal menakjubkan namun menyimpan luka yang
bernanah dan busuk di dalam hati nya hingga sampai-sampai itu mempengaruhi
fisiknya.
- Nyai Ontosoroh alias Sanikem
Ia
seorang pribadi cemerlang, seorang nakhoda kapal yang tak bakal membiarkan
kapalnya rusak di tengah pelayaran, apalagi tenggelam. (Halaman 469)
Wanita teladan seklipun
hidup sebagai seorang Nyai (gundik) yang secara hukum, agama, dan budaya tidak
berstatus menakjubkan.
Banyak pula tokoh lain
yang menemani seperti Jean dan anaknya May Marais, kemudian Tuan Telinga dan
istri, Herman Mellema (ayah Annelies dan Tuan nya Sanikem), Robert Mellema,
Robert Suurhoft, Jan Deepeste, Darsam (si pendekar Madura), Dokter Martinet,
ayah dan bunda Minke, Miriam, Sarah, dan Herbert de la Croix, Magda Peters,
dll.
What
about the book, Vit?
Berputar di sekitar Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh
sebagai pusat dari putaran arus novel ini. Novel yang membuat Pramoedya Ananta
Toer meraih hadiah Nobel ini memang menakjubkan. Pertama thanks to Adli yang
udah memperkenalkan dan meminjamkan buku ini ^^ thanks sekali.
Di tuturkan dengan alur lambat dan agak
membingungkan (bahasa nya), namun perlahan dengan cara yang unik dan pasti akan
membangkitkan Nasionalisme mu. Pram bisa mengangkat kegeraman dalam hati mu
atas perlakuan yang sering di dapatkan Minke. Membangkitkan rasa cinta mu
terhadap tanah air melalui surat-surat Miriam dan Sarah de la Croix contohnya.
Membangkitkan semangat wanita mu melalui peran dan
keagungan Nyai Ontosoroh sekalipun sebagai concubine or slave mungkin di Indonesiakan
pas nya ‘simpanan’. Lihat banyak sekali bukti bahwa Nyai benar-benar harus
menjadi teladan kita misalnya bisa di baca di halaman 425-428, di
halaman-halaman akhir saat persoalan mereka menjadi sangat kalut dan gila, dan
tak bisa di pungkiri, keagungan Nyai menyebar di seantero novel.
Aku menyukai semu atokoh dan juga peran nya dalam
buku ini kecuali Annelies.
Awalnya aku memang menyukai dia, tapi lama kelamaan
kenapa aku merasa bahwa Annelies di sini benar-benar menyebalkan sepanjang
novel kecuali sisi lain nya yang keluar di akhir (halaman 525-533). I mean I perfectly
understand that she is a teenager, but really? She acted like an ashole all the
time.
Namun novel ini pula membawa mu untuk berkhayal
menjadi Sang Dewi, Annelies.
“.
. . semua bunga menunduk, meliukan tangkai, malu karena kalah cantik. Mereka jadi
pucat kehilangan seri dan warna. . .”
Siapa yang tidak ingin menjadi seperti itu? Siapa
yang tidak ingin memiliki pria yang mengatakan itu padamu?
Namun Tuhan memang selalu adil. Tak ada yang
sempurna, begitu pula dengan Sang Dewi.
“.
. . Ini barangkali tingkat susila keluarga nyai-nyai? Hampir-hampir aku
benarkan. Tapi terdengar suara Jean Marais: terpelajar harus adil sejak dalam
pikiran. Terbayang Marais menuding dan menuduh: tingkat susila mu sendiri tak
lebih tinggi, Minke. Dan aku jadi malu pada diri sendiri. Dia, Annelies, tidak
lebih buruk dari Minke.” (halaman 360)
Minke mengajarkan kita untuk tidak saling menghakimi
karena semua manusia pada dasarnya tidak memiliki hak untuk itu. Semua manusia
penuh dengan cela dan nista. Minke mengajarkan kita untuk membuka hati,
menerima penjelasan, dan memikirkan alasan di balik sebuah peristiwa.
Well,, sekalipun agak berat (berhubung bahasa nya
agak tidak familiar) namun bahasa tak familiar dan setting di masa penjajahan itu
banyak menghasilkan ‘tawa tengah malam’ untuk ku (aku baca nya kebanyakan
tengah malam, ha ha).
Contohnya waktu Toer menggambarkan tentang sakit
kepala sebagai buah palakia yang menumbuhi kepala. Bagi ku itu agak lucu dan
aneh lho. Aku baru tahu tentang biji palakia tari novel itu. (baca sendiri pasti kerasa aneh –lucu nya.
Dan pula waktu Toer menceritakan penemuan baru di
Jerman yang di gunakan untuk melenyapkan si palakia, ASPIRIN guys. Hal yang
sangat di wah kan di sini ternyata aspirin. Bagiku itu mengundang tawa:)
Finally kita sampai ke tahap akhir yaitu apakah buku ini akan aku rekomendasikan untuk di baca? Oh tentu saja!^^
terbukti dari foto ini^^ *sorry kualitas foto nya jelek, pake laptop sih:)*
iya, semua. Kamu, kamu, dan juga kamu!!!
Finally kita sampai ke tahap akhir yaitu apakah buku ini akan aku rekomendasikan untuk di baca? Oh tentu saja!^^
terbukti dari foto ini^^ *sorry kualitas foto nya jelek, pake laptop sih:)*
heh semua!!
iya, semua. Kamu, kamu, dan juga kamu!!!
ayu atuh di beli dan baca!!





Ka ,punya link ebook nya gak biar bisa didownload bukunya ? Soalnya saya cari cari buku itu udah gak ada
ReplyDeleteYah maaf Arya. Nggak punya. Coba cari di toko online. Atau mau nitip lewat aku? Di deket kampusku ada yang jual.😄
DeleteMaaf lama balesnya
Ka ,punya link ebook nya gak biar bisa didownload bukunya ? Soalnya saya cari cari buku itu udah gak ada
ReplyDeleteAku sih pin nya saja yg pegang bukunya.
ReplyDeleteBoleh gak?
Aku punya beberapa koleksi buku mas pram sempat kita bisa sharing hehe